Bagian 1 Secangkir Kopi Sebelum Malam
Home| Catatan malam | Ruang fiksi Coffe truck tak seperti biasanya, hari ini banyak wajah-wajah baru yang tak kukenal. Cukup ramai karena coffe truck sangatlah strategis dari jembatan merah. Wisata domestik yang tak pernah sepi, tidak bisa dipungkiri ketika siang hari, mata masih saja ingin menikmati setiap keindahan dari wisata pinggiran kota ini dan solusi terakhir adalah menyeruput kopi milik paman Galih. Aku Asya, manusia yang berkutat dengan buku-buku sastra kini tanganku lihai membawa kopi dambaan pelanggan coffe truck pamanku, aku menyenangi pekerjaan ini. Matahari kian mengikuti langkah kakiku saat membersihkan meja-meja yang tak berpenghuni. Cukup kotor, terkadang menemukan puntung rokok, gulungan kertas hingga uang receh, entah siapa yang memilikinya. Aku tak pernah mengeluh, aku bahkan senang membersihkan meja kotor dan menyemprot dengan wewangian. Dari jarak dekat, aku mendengar seseorang memanggilku dan melambaikan tangannya. “Mbak, sini saya mau pesan...” Aku meng...