Bagian 1 Secangkir Kopi Sebelum Malam
Home| Catatan malam | Ruang fiksi
Matahari kian mengikuti langkah kakiku saat membersihkan meja-meja yang tak berpenghuni. Cukup kotor, terkadang menemukan puntung rokok, gulungan kertas hingga uang receh, entah siapa yang memilikinya. Aku tak pernah mengeluh, aku bahkan senang membersihkan meja kotor dan menyemprot dengan wewangian. Dari jarak dekat, aku mendengar seseorang memanggilku dan melambaikan tangannya.
“Mbak, sini saya mau pesan...”
Aku menghampirinya dengan raut wajah yang sebenarnya sudah lelah seharian, tapi masih saja harus tersenyum.
“Mau pesan apa kak?” kataku cukup sigap.
“Di sini kopi apa yang paling favorit?” tanya pengunjung tersebut.
“Hmm, banyak kak tapi yang paling favorit itu kopi Americano, Vanilla macchiato, dan coffe mocha. Kak mau pesan yang mana? Tanyaku kembali dengan catatan kecil ditangan.
“Saya pesan coffe mocha satu yah” jawabnya.
“Baik, kak mau Hot or Iced? Tawarku.
“Iced untuk es batu jangan banyak yah.” Tegasnya.
“Oke kak, mau pesan cemilan?” tanyaku lagi. Harap-harap laki-laki yang di hadapanku sekarang tidak risih dengan berbagai sodoran pertanyaan. Tapi mukanya sepertinya baik dan ramah, kataku dalam hati.
“Tidak, terima kasih.” Ujarnya sambil menundukkan wajahnya.
“Baik kak, mohon di tunggu pesannya.” Pungkasku diiringi senyum tipis.
Aku memberikan catatan pesanan kepada paman Galih, tugasku kali ini telah selesai. Tenggorakan serasa kering, berbagai pesanan menyita waktu untuk sekadar minum air putih berbeda hari ini, aku ingin memesan vanilla macchiato dengan dua sendok espresso. Terbilang aneh, tapi dalam bayanganku rasa autentik saat espresso memiliki rasa lebih pekat, aku menyukainya.
“Paman aku pesan Vanilla macchiato seperti biasa yah, dua sendok espresso” kataku singkat
“Pak, saya pesan Vanilla macchiato seperti biasa yah, dua sendok espresso”. Salah satu pengunjung.
Bersamaan sosok laki-laki tegak berdiri disampingku juga memesan minuman dengan takaran dan jenis kopi yang sama.
Mata kami saling beradu selama 5 detik kemudian beralih. Ingatanku seketika terbawa ke masa putih abu-abu. Tentang seseorang yang pernah bersamaku, Asya 5 tahun yang lalu. Saat dua orang asing papasan di gerbang sekolah saat dibuka maupun pembelajaran telah berakhir. Kami pulang dengan bus yang sama, bus 402. Posisi duduknya tidak pernah berubah, di pojok kanan bus dekat jendela. Dia Alvin, laki-laki si kutu buku itu. Terkadang senja menjadi sanksi saat aku melihatnya bekerja paruh waktu di sebrang rumah paman Galih. Sebuah cafe mini, setiap hari aku melihatnya di sana.
Iya, pikiranku liar, tiap jengkal kenangan bersamanya mulai bermunculan. Bukan dia seperti apa sekarang? Bukan tentang bagaimana dia sekarang? melainkan tentang dunia pernah berputar dibawa canda tawa, mengulas buku di perpustakaan sekolah, toko buku lama, malam serta segala hal yang membuat kami melupakan luka dan trauma. Aku menyesali waktu kian berlalu itu, meski begitu banyak hal yang kita lakukan bersama atas perayaan-perayaan bahagia itu, aku sangat bersyukur. Dan hari ini, aku menemuinya dari sekian purnama semesta mendukung kami untuk bertemu di sini.
Dia terdiam, sama sepertiku. Matanya lihai melihatku dari ujung kaki hingga ujung kepalaku, mulutnya mengatakan sesuatu yang 5 tahun lalu ia sering memanggilnya.
“Asya. Ini kamu? Beneran?” tanya Alvin dengan wajah yang masih bingung.
Semenjak jadi barista di coffe truck paman Galih tampilanku lebih casual dan santai, dulu aku hobi memakai kacamata abu-abu, kemeja yang selalu di dalam serta tas penuh buku dan cemilan. Alvin juga sangat berbeda, tak lagi memakai kacamata, rambutnya rapi sicked back dan gaya jalanya tidak pernah berubah.
“Iya, ini aku Asya.” Aku menunjukkan muka kodok dengan kedua tangan yang terkepal.
Seketika Alvin mengenali karena dulu gaya itu selalu kami lakukan saat berpisah di halte bus menuju rumah kami masing-masing.
“Kamu masih ingat kan?”kataku senyum perlahan padanya.
“Iya, dasar kodok” umpatnya puas sembari tertawa kencang.
“Ehh, kamu tuh yang kodok, kan kamu sering lompat-lompat pas turun bus, ingat nggak kamu?” tanyaku nada serius.
“Hmm, iya hehe”
Kami pun tertawa bersama setelah mengejek satu sama lain. Aku dan Alvin duduk tepat dibawah pohon ketapang kencana, kira-kira jaraknya tak jauh dari coffe truck pamanku. Alvin melewati tahun-tahun terbaik tanpa berbagi cerita denganku. Kami sempat lost concent karena aku memiliki nomor baru, setelah perpisahan sekolah masa itu kami tak pernah bertemu kembali.
“Vin, jadi kamu selama ini ke mana?” tanyaku spontan.
“Sebenarnya 2 tahun yang lalu aku ke Paris belajar bersama kakakku” jawabnya.
“Oh yah? Sangat menyenangkan pasti, kamu ke mana saja saat di Paris?
“Nggak banyak tempat, tapi pernah datang ke museum Louvre dan Montmartre” ujar Alvin dengan cukup jelas sambil menyeruput kopinya.
“Wow museum Louvre, aku waktu SMA pengen banget ke sana tau” nadaku sangat antusias tetapi akhirnya kecewa karena tidak pernah ke Paris apalagi datang ke museum ternama di Paris.
“Semoga kamu ada kesempatan ke sana..” timbal Alvin.
“Aamiin... Eh Vin kamu ke Menara Eiffel juga?”
“Nggak. “ pungkasnya.
“Kok enggak? Itu kan ikonik utama di Paris.
“Aku benar-benar fokus belajar di sana bukan untuk liburan.”
Seketika diam sejenak. Iya aku tahu Alvin Wirawan, laki-laki kelihatan pendiam dan dingin. Tak banyak bercerita tapi dia sangat peka terhadap orang-orang di sekitarnya. Bahkan kepergiannya ke Paris pun baru aku mengetahuinya saat bertemu. Dia saat mengambil konsentrasi arsitektur dan belajar di Paris. Itu sangat luar biasa dari dugaanku. Dia selalu menamai dirinya people ordinary nyatanya dia adalah si jenius dan diam-diam terbang tinggi layaknya burung elang.
“Selama ini kamu bantu om Galih?” tanyanya tiba-tiba yang membuatku tercengang.
“Iya beberapa bulan ini aku menghabiskan waktu membantu pamanku”
“Hebat yah kamu” pungkasnya sambil tersenyum tulus padaku.
“Kamu lebih hebat, aku cuma tukang seduh kopi, bawa pesanan, itu aja” tuturku cukup singkat.
“Apakah kamu senang melakukan itu?”
“Senang, senang sekali. Bertemu orang banyak, memenuhi pesanan mereka, mengantarkan pesanan mereka. Part paling seru itu jika ada pelanggan lama pamanku selalu berbincang dengan mereka.” Jelasku cukup panjang.
“Bagus dong, jadi diri sendiri saat bekerja itu sangat seru.” Katanya Alvin.
“Kamu juga kan?” tanyaku penasaran .
“Iya aku juga berusaha menikmati ritme jadi seorang yang suka seni”
“Padahal kamu dulu nggak suka seni loh” kekehku dengan gelas di tanganku.
“Itulah hidup sering berubah sesuai keadaan yang kita hadapi kala itu” jelas Alvin cukup membuatku terkesima dengan nasehatnya.
“Iya deh yang paling pintar.” Pungkasku.
“Eh kamu loh yang bilang, bukan kodok” kekehnya sambil menyeruput kopi terakhir.
Matahari pun luruh di barat, menyepuh langit dengan warna tembaga, sementara bayang-bayang kami saja terbuai dalam obrolan yang tak ada akhir. Dunianya normal namun tak mudah. Dia hidup dengan kedua orang tua yang tak selalu ada di sisinya dengan keadaan itu membuat jadi mandiri dan lebih tahu arti kehidupan yang aku tak dapatkan dari orang lain. Nyatanya dia lebih dewasa sekarang tapi satu hal yang tak berubah dia tidak pernah melupakan wajah yang pernah menyapa malam di pusat kota, orang yang sering membuat tertawa walaupun harus marah setelah itu. Menuju malam, kami tak membuka obrolan lagi, mata kami saling beradu kembali sembari menyeruput secangkir kopi masing-masing. Semoga tak ada lagi kata perpisahan setelah pertemuan itu mulai terawat baik.

Comments
Post a Comment